TRIDAYA KAWAWAS: MELUASKAN PANDANGAN DARI DIRI MENUJU KEHIDUPAN
Tridaya Kawawas merupakan tataran kelima dalam Nawa Tridayaning Janma Uttamopadesa. Setelah Cipta, Rasa, dan Karsa mulai tertata, jernih, serta tenteram, manusia memasuki keadaan ketika pandangannya terhadap kehidupan menjadi lebih luas.
Ia tidak lagi memahami kehidupan semata-mata berdasarkan kepentingan dirinya sendiri, tetapi mulai melihat hubungan antara dirinya, sesama, alam, dan Sang Sumber Panguripan.
Kawawas dapat dipahami sebagai keadaan ketika pandangan menjadi lebih luas dan mendalam. Manusia mulai mampu melihat persoalan dari lebih dari satu sisi. Ia tidak mudah mengambil kesimpulan hanya berdasarkan pengalaman pribadi karena memahami bahwa kehidupan jauh lebih luas daripada kepentingan dirinya.
Dari “aku” menuju “kita”.
Pada tahap awal, manusia cenderung melihat segala sesuatu melalui kepentingan diri. Apa yang menguntungkan dianggap baik, sedangkan apa yang merugikan dianggap buruk.
Seiring berkembangnya Cipta, Rasa, dan Karsa, pandangan tersebut mulai meluas. Manusia mulai memahami bahwa tindakan pribadi memiliki akibat terhadap orang lain.
Sebuah perkataan dapat mempengaruhi perasaan sesama. Sebuah keputusan dapat mempengaruhi keluarga atau masyarakat. Cara manusia memperlakukan alam dapat mempengaruhi kehidupan di sekitarnya.
Kesadaran terhadap hubungan tersebut membuat manusia tidak lagi hidup hanya untuk memenuhi kepentingan pribadi.
Cipta menjadi lebih bijaksana.
Cipta yang kawawas tidak terburu-buru mengambil keputusan. Ia berusaha memahami persoalan secara lebih utuh. Kebijaksanaan tidak hanya berarti mengetahui banyak hal, tetapi mengetahui bagaimana menggunakan pengetahuan tersebut secara tepat.
Seseorang dapat memiliki pengetahuan luas tetapi tetap bersikap sempit apabila seluruh pengetahuannya digunakan untuk memenangkan kepentingan diri.
Cipta yang bijaksana mempertimbangkan akibat. Ia mampu melihat bahwa keputusan yang terlihat baik dalam waktu singkat belum tentu baik dalam jangka panjang.
Rasa semakin luas.
Rasa dalam Tridaya Kawawas berkembang melampaui kepentingan pribadi. Manusia mulai mampu memahami keadaan orang lain tanpa harus mengalami keadaan yang sama.
Ia dapat merasakan kesulitan orang lain, menghargai perbedaan pengalaman, dan tidak mudah menghakimi. Rasa semacam ini menjadi dasar berkembangnya welas asih.
Namun, welas asih bukan berarti selalu menyetujui semua tindakan orang lain. Manusia tetap dapat membedakan antara benar dan salah, tetapi ia tidak perlu membenci orang yang melakukan kesalahan.
Karsa semakin matang.
Karsa yang kawawas mempertimbangkan dampak tindakan terhadap kehidupan yang lebih luas. Keputusan tidak lagi dibuat hanya berdasarkan pertanyaan “Apa yang saya inginkan?” tetapi juga “Apa akibatnya bagi sesama?”
Kematangan Karsa terlihat dalam kemampuan mengendalikan kepentingan pribadi ketika kepentingan tersebut bertentangan dengan kebaikan bersama.
Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini dapat terlihat melalui kesediaan berbagi, menjaga kepercayaan, menghormati hak orang lain, menjaga lingkungan, dan menghindari tindakan yang merugikan kehidupan.
Kebahagiaan dan kesulitan.
Salah satu ciri Tridaya Kawawas adalah perubahan cara menghadapi keberhasilan dan kesulitan. Keberhasilan tidak lagi membuat manusia merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain. Ia dapat menerima keberhasilan dengan rasa syukur dan tetap rendah hati.
Sebaliknya, kesulitan tidak langsung dianggap sebagai kehancuran. Ia dipahami sebagai bagian dari perjalanan yang dapat memberikan pembelajaran.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa Cipta, Rasa, dan Karsa tidak lagi terlalu bergantung pada keadaan luar.
Hubungan dengan Sang Sumber Panguripan.
Pandangan yang semakin luas juga membawa manusia pada pemahaman mengenai hubungan dirinya dengan kehidupan yang lebih besar. Ia mulai melihat bahwa dirinya bukan sesuatu yang berdiri sendiri.
Manusia hidup karena kehidupan. Ia bergantung pada alam, sesama, dan berbagai unsur kehidupan yang berada di luar dirinya. Dalam kerangka Uttamopadesa, pandangan ini dapat membawa manusia semakin memahami hubungan dirinya dengan Sang Sumber Panguripan.
Pemahaman tersebut tidak dimaksudkan untuk menjadikan manusia merasa kecil, melainkan agar ia tidak menjadikan dirinya sebagai pusat segala sesuatu.
Kawawas sebagai perluasan tanggung jawab.
Semakin luas pandangan, semakin luas pula tanggung jawab. Ketika manusia memahami bahwa tindakannya memiliki akibat, ia tidak dapat lagi dengan mudah mengatakan bahwa tindakannya hanya urusan dirinya sendiri.
Kebebasan dan tanggung jawab berjalan bersama. Karsa yang matang menggunakan kebebasan dengan mempertimbangkan kehidupan yang lebih luas.
Inilah salah satu makna penting Nawa Tridayaning Janma Uttamopadesa, yaitu perkembangan manusia tidak hanya ditandai oleh perubahan di dalam dirinya, tetapi juga oleh perubahan cara ia hadir dalam kehidupan.
Tridaya Kawawas kemudian menjadi dasar menuju Tridaya Pangrasa, ketika keluasan pandangan tersebut semakin menyatu dengan kedalaman rasa, kasih, welas asih, dan ketulusan.
FAQ Tridaya Kawawas.
Apa arti Tridaya Kawawas?
Tridaya Kawawas adalah tataran ketika pandangan manusia menjadi lebih luas dan mendalam sehingga tidak lagi hanya berpusat pada kepentingan diri.
Apa tanda Tridaya Kawawas?
Di antaranya adalah semakin bijaksana dalam menimbang, semakin peka terhadap sesama, serta semakin matang dalam menentukan tindakan.
Apa hubungan Kawawas dengan welas asih?
Pandangan yang luas membuat manusia lebih mampu memahami keadaan sesama sehingga menjadi dasar berkembangnya welas asih.
Apakah Tridaya Kawawas berarti mengabaikan kepentingan pribadi?
Tidak. Kepentingan pribadi tetap diperhatikan, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya dasar dalam menentukan tindakan.
Apa hubungan Tridaya Kawawas dengan Sang Sumber Panguripan?
Manusia mulai memahami dirinya sebagai bagian dari kehidupan yang lebih luas dan menyadari hubungan dirinya dengan Sang Sumber Panguripan.

Komentar
Posting Komentar