TRIDAYA WENING: BERSIHNYA CIPTA, RASA, DAN KARSA DALAM KEHIDUPAN
Setelah manusia mulai mampu mengamati dirinya melalui Tridaya Waspada, perjalanan Nawa Tridayaning Janma Uttamopadesa memasuki tataran ketiga, yaitu Tridaya Wening.
Wening berarti jernih, sehingga Tridaya Wening menggambarkan keadaan ketika Cipta, Rasa, dan Karsa mulai terbebas dari kegelapan pamrih yang selama ini memengaruhi cara manusia melihat, merasakan, dan bertindak.
Kejernihan tersebut tidak berarti bahwa manusia tidak pernah lagi mengalami kemarahan, kesedihan, keinginan, atau persoalan kehidupan. Manusia tetap memiliki berbagai pengalaman tersebut.
Perbedaannya terletak pada bagaimana ia menghadapinya. Perasaan tidak lagi langsung menguasai tindakan, pikiran tidak lagi mudah digunakan untuk membenarkan kepentingan pribadi, dan kehendak mulai diarahkan berdasarkan pertimbangan yang lebih jernih.
Wening bukan kekosongan.
Tridaya Wening sering kali dapat disalahpahami sebagai keadaan tanpa pikiran atau tanpa perasaan. Padahal, wening justru menunjukkan kualitas Cipta dan Rasa yang semakin baik.
Cipta yang wening bukan Cipta yang kosong, melainkan pikiran yang mampu melihat persoalan tanpa terlalu banyak dibelokkan oleh pamrih. Rasa yang wening bukan Rasa yang mati, melainkan perasaan yang semakin bersih dalam mengenali kebajikan. Karsa yang wening bukan kehendak yang lemah, melainkan kehendak yang tidak mudah dikendalikan oleh dorongan sesaat.
Dengan demikian, kejernihan merupakan bentuk kematangan, bukan penghilangan daya manusia.
Cipta yang mulai melihat kenyataan.
Pikiran manusia dapat menjadi sangat kuat dalam menciptakan pembenaran. Ketika memiliki kepentingan tertentu, seseorang dapat melihat hanya bagian kenyataan yang mendukung keinginannya. Tridaya Wening mengajarkan manusia untuk mulai keluar dari pola tersebut.
Cipta yang jernih berusaha melihat sesuatu sebagaimana adanya. Jika salah, ia berani mengakui kesalahan. Jika belum mengetahui, ia berani mengatakan belum mengetahui. Jika pendapatnya ternyata keliru, ia tidak menganggap perubahan pendapat sebagai kekalahan.
Sikap semacam itu merupakan bentuk kejernihan karena manusia tidak lagi mempertahankan pikiran hanya demi mempertahankan harga diri.
Rasa yang bersih dari pamrih.
Rasa juga mengalami perubahan. Pada keadaan yang belum wening, kebaikan dapat dilakukan karena ingin mendapatkan penghargaan. Seseorang dapat membantu orang lain karena ingin dipuji atau ingin dianggap sebagai manusia baik.
Dalam Tridaya Wening, dorongan semacam itu mulai berkurang. Kebaikan dilakukan karena manusia memahami bahwa kebaikan memang memiliki nilai bagi kehidupan.
Perubahan tersebut sangat halus karena tindakan luar dapat terlihat sama, tetapi sumbernya berbeda. Dua orang dapat melakukan pertolongan yang sama, namun yang satu melakukannya demi penghargaan sedangkan yang lain melakukannya karena ketulusan.
Karsa yang mulai lurus.
Karsa yang wening berarti kehendak mulai diarahkan kepada tindakan yang selaras dengan apa yang telah dipahami oleh Cipta dan dirasakan oleh Rasa.
Tidak lagi terjadi jarak yang terlalu besar antara pengetahuan dan tindakan. Jika manusia memahami bahwa menyakiti orang lain merupakan tindakan buruk, ia berusaha mengendalikan kehendaknya agar tidak menyakiti. Jika memahami pentingnya kejujuran, ia berusaha menjadikan kejujuran sebagai kebiasaan.
Inilah salah satu ciri penting bahwa kawruh mulai menjadi laku.
Memahami sebab dan akibat.
Pada Tridaya Wening, manusia tidak hanya mengetahui bahwa suatu tindakan benar atau salah. Ia mulai memahami hubungan sebab dan akibat dari pikiran, perasaan, dan tindakannya.
Kemarahannya memiliki sebab. Kesombongannya memiliki sebab. Ketakutannya memiliki sebab. Keinginannya untuk dipuji juga memiliki sebab. Dengan memahami sebab, manusia memperoleh kesempatan untuk mengubah pola yang selama ini berulang.
Ia juga mulai memahami akibat. Ucapan yang kasar dapat meninggalkan luka. Ketidakjujuran dapat merusak kepercayaan. Keserakahan dapat menimbulkan penderitaan. Sebaliknya, ketulusan dapat membangun hubungan, kesabaran dapat mencegah pertikaian, dan kejujuran dapat menumbuhkan kepercayaan.
Kebajikan menjadi pemahaman hidup.
Kebajikan pada tahap ini tidak lagi sekadar kumpulan aturan. Manusia mulai memahami alasan mengapa suatu tindakan dianggap baik.
Ia tidak jujur hanya karena takut mendapatkan hukuman, tetapi karena memahami bahwa kejujuran menjaga hubungan manusia dengan kenyataan. Ia tidak menolong hanya karena ingin dipuji, tetapi karena memahami bahwa kehidupan manusia saling berhubungan. Inilah perubahan penting dari kepatuhan menuju penghayatan.
Hubungan dengan Kawruh Sejati.
Dalam kerangka Nawa Tridayaning Janma Uttamopadesa, Tridaya Wening memperlihatkan bahwa Kawruh Sejati tidak berhenti pada banyaknya pengetahuan. Pengetahuan yang benar seharusnya membawa perubahan pada kualitas Cipta, Rasa, dan Karsa.
Jika pengetahuan semakin banyak tetapi kesombongan semakin besar, berarti pengetahuan belum sepenuhnya menjadi laku. Jika seseorang memahami kasih tetapi masih senang merendahkan orang lain, berarti pemahaman tersebut belum berakar dalam Rasa.
Karena itu, ukuran perkembangan bukan sekadar apa yang dapat diucapkan, melainkan bagaimana pengetahuan tersebut mengubah kehidupan.
Tridaya Wening menjadi dasar menuju Tridaya Tentrem. Setelah Cipta, Rasa, dan Karsa semakin bersih, manusia mulai memperoleh ketenangan yang tidak terlalu bergantung pada perubahan keadaan luar.
FAQ Tridaya Wening.
Apa arti Tridaya Wening?
Tridaya Wening adalah tataran ketika Cipta, Rasa, dan Karsa mulai menjadi lebih jernih dan bersih dari pamrih yang mengaburkan kenyataan.
Apakah Tridaya Wening berarti tidak memiliki emosi?
Tidak. Rasa tetap ada, tetapi semakin mampu diarahkan sehingga tidak mudah menjadi penguasa tindakan.
Apa tanda Cipta mulai wening?
Seseorang mampu mengakui kesalahan, menerima kenyataan, mempertimbangkan pandangan lain, dan tidak selalu menggunakan pikiran untuk membenarkan kepentingannya.
Apa hubungan Tridaya Wening dengan Kawruh Sejati?
Tridaya Wening menunjukkan bahwa pengetahuan mulai dihayati sehingga memengaruhi cara berpikir, merasa, dan bertindak.
Apa tahap setelah Tridaya Wening?
Tahap berikutnya adalah Tridaya Tentrem, ketika Cipta, Rasa, dan Karsa mulai menemukan ketenangan dan keselarasan.

Komentar
Posting Komentar