TRIDAYA SAMPURNA: KETIKA KAWRUH TELAH MENJADI LAKU
Dalam perjalanan Nawa Tridayaning Janma Uttamopadesa, Tridaya Sampurna merupakan tataran kedelapan yang menggambarkan perkembangan Cipta, Rasa, dan Karsa secara utuh dan selaras. Pada tahap ini, manusia tidak lagi sekadar mengetahui ajaran mengenai kehidupan, tetapi mulai menjadikan pengetahuan tersebut sebagai laku yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Kata “sampurna” tidak harus dipahami sebagai kesempurnaan mutlak tanpa kekurangan. Dalam konteks ini, sampurna lebih tepat dipahami sebagai keadaan ketika unsur-unsur penting dalam diri telah berkembang secara utuh dan tidak lagi berjalan saling bertentangan.
Cipta yang memberikan kejernihan.
Cipta pada Tridaya Sampurna menjadi sumber kejernihan dalam menentukan arah kehidupan. Pikiran tidak lagi mudah dikuasai oleh prasangka dan pamrih.
Manusia dapat mempertimbangkan berbagai keadaan tanpa kehilangan dasar kebajikan. Ia mampu menggunakan pengetahuan untuk memahami persoalan sekaligus mempertimbangkan akibatnya.
Cipta yang matang juga tidak merasa harus selalu menang. Kebenaran menjadi lebih penting daripada kemenangan pribadi dalam sebuah perdebatan.
Rasa yang menumbuhkan kasih.
Rasa dalam Tridaya Sampurna berkembang menjadi sumber kasih dan kepekaan. Manusia mampu memahami penderitaan, menghargai kehidupan, dan memperlakukan sesama dengan lebih manusiawi.
Kasih tidak lagi hanya ditujukan kepada orang yang menyenangkan dirinya. Justru kematangan Rasa terlihat ketika manusia tetap mampu menjaga kemanusiaannya saat menghadapi orang yang berbeda pandangan atau bahkan pernah menyakitinya.
Hal ini tidak berarti menghilangkan batas atau membiarkan kesalahan. Kebijaksanaan tetap diperlukan agar kasih tidak berubah menjadi pembiaran terhadap tindakan yang merugikan.
Karsa yang mengarah kepada kebajikan.
Karsa menjadi sempurna dalam arti semakin selaras dengan Cipta dan Rasa. Apa yang diketahui benar semakin mudah diwujudkan menjadi tindakan.
Manusia tidak perlu terus-menerus memaksa dirinya untuk melakukan kebajikan karena kebajikan telah menjadi bagian dari kebiasaan hidupnya.
Kejujuran dilakukan karena telah menjadi watak. Kesabaran tumbuh karena manusia memahami nilainya. Menolong dilakukan karena rasa kemanusiaan telah berkembang.
Kawruh menjadi laku.
Inilah salah satu ciri paling penting Tridaya Sampurna. Kawruh telah menjadi laku.
Pengetahuan tentang kebaikan tidak berhenti pada kemampuan menjelaskan. Manusia menjalankannya.
Pengetahuan mengenai kasih tampak dalam cara berbicara. Pengetahuan mengenai kejujuran tampak dalam keputusan. Pengetahuan mengenai pengendalian diri tampak ketika menghadapi provokasi. Pengetahuan mengenai kerendahan hati tampak ketika memperoleh keberhasilan.
Dengan demikian, ukuran kawruh bukan semata-mata seberapa banyak seseorang dapat menjelaskan suatu ajaran, tetapi seberapa jauh ajaran tersebut mengubah kehidupannya.
Berkurangnya “aku” yang sempit.
Pada Tridaya Sampurna, rasa “aku” yang sempit mulai berkurang. Manusia tidak lagi selalu menempatkan dirinya sebagai pusat segala sesuatu.
Ia mulai memahami bahwa kehidupan terdiri dari hubungan yang saling berkaitan. Kebahagiaan dirinya memiliki hubungan dengan kebahagiaan orang lain. Keamanan dirinya memiliki hubungan dengan keadaan lingkungan. Tindakan pribadi dapat membawa akibat yang lebih luas.
Pemahaman ini membuat Karsa semakin berhati-hati dalam bertindak.
Tidak mencari pengakuan.
Manusia yang semakin matang tidak terlalu membutuhkan pengakuan dari luar untuk merasa dirinya bernilai. Ia dapat melakukan kebaikan tanpa selalu ingin diketahui.
Hal ini bukan berarti menolak penghargaan, melainkan tidak menjadikan penghargaan sebagai sumber utama tindakan.
Ketika seseorang melakukan kebaikan hanya agar dianggap baik, maka kebaikan tersebut masih memiliki pamrih. Ketika seseorang mampu melakukan kebaikan meskipun tidak ada yang mengetahui, ketulusan menjadi semakin kuat.
Keselarasan tiga daya.
Tridaya Sampurna memperlihatkan hubungan paling jelas antara Cipta, Rasa, dan Karsa.
Cipta memberikan kejernihan untuk memahami. Rasa memberikan kedalaman untuk menghayati. Karsa memberikan kekuatan untuk mewujudkan.
Jika salah satu tidak berkembang, keseimbangan menjadi terganggu. Pengetahuan tanpa kasih dapat menjadi dingin. Kasih tanpa kejernihan dapat menjadi tidak terarah. Kehendak tanpa keduanya dapat menjadi tindakan yang keras dan penuh pamrih.
Karena itu, keselarasan ketiga daya menjadi inti perkembangan manusia.
Menuju Tridaya Manunggal.
Tridaya Sampurna menjadi tahap yang mengantarkan manusia menuju tataran terakhir, Tridaya Manunggal. Jika Sampurna menggambarkan perkembangan yang utuh,
Manunggal menggambarkan penyatuan Cipta, Rasa, dan Karsa menjadi satu daya yang selaras.
Dalam perjalanan Nawa Tridayaning Janma Uttamopadesa, kedua tahap tersebut memiliki hubungan yang sangat erat. Manusia terlebih dahulu perlu mengembangkan ketiga daya secara utuh sebelum ketiganya dapat benar-benar menyatu dalam arah kehidupan yang sama.
FAQ Tridaya Sampurna.
Apa arti Tridaya Sampurna?
Tridaya Sampurna adalah keadaan ketika Cipta, Rasa, dan Karsa berkembang secara utuh dan selaras sehingga kawruh mulai benar-benar menjadi laku.
Apa ciri utama Tridaya Sampurna?
Ciri utamanya adalah keselarasan antara pikiran, perasaan, dan tindakan serta semakin berkurangnya pamrih pribadi.
Apa maksud “kawruh menjadi laku”?
Artinya pengetahuan tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi diwujudkan dalam kebiasaan dan tindakan nyata.
Apakah Sampurna berarti manusia tidak pernah melakukan kesalahan?
Tidak. Sampurna menggambarkan kematangan dan keselarasan perkembangan, bukan keadaan tanpa kemungkinan melakukan kesalahan.
Apa hubungan Tridaya Sampurna dengan Tridaya Manunggal?
Tridaya Sampurna menjadi dasar menuju Tridaya Manunggal, ketika Cipta, Rasa, dan Karsa semakin menyatu dalam satu arah kebajikan.

Komentar
Posting Komentar