TRIDAYA TENTREM, KETENANGAN MULAI TUMBUH

tridaya tentrem, ketenangan mulai tumbuh
TRIDAYA TENTREM, KETENANGAN MULAI TUMBUH DARI KESELARASAN CIPTA, RASA, DAN KARSA

Dalam perjalanan Nawa Tridayaning Janma Uttamopadesa, Tridaya Tentrem merupakan tataran keempat setelah manusia mulai mampu mengamati dan menjernihkan Cipta, Rasa, dan Karsa.

Tentrem berarti tenteram atau damai, tetapi ketenteraman yang dimaksud bukan sekadar keadaan ketika tidak ada persoalan. Tridaya Tentrem lebih dalam daripada sekadar kehidupan yang tenang karena menggambarkan keadaan ketika ketiga daya dalam diri manusia mulai berjalan dengan lebih selaras.

Kehidupan manusia selalu mengalami perubahan. Ada keberhasilan dan kegagalan, pujian dan celaan, pertemuan dan perpisahan, kemudahan dan kesulitan. Apabila ketenteraman sepenuhnya bergantung pada keadaan tersebut, manusia akan terus mengalami perubahan batin mengikuti perubahan dunia.

Karena itu, Tridaya Tentrem menunjukkan mulai tumbuhnya dasar ketenangan yang bersumber dari kebersihan dan keselarasan diri.

Tentrem bukan berarti tanpa masalah.
Salah satu kesalahpahaman mengenai ketenteraman adalah anggapan bahwa manusia yang tenteram seharusnya tidak memiliki persoalan. Padahal, kehidupan tidak pernah berhenti menghadirkan perubahan.

Manusia yang berada dalam Tridaya Tentrem tetap dapat mengalami kesedihan, kehilangan, kegagalan, atau kekecewaan. Namun, berbagai keadaan tersebut tidak lagi dengan mudah dapat menghancurkan keseimbangan Cipta, Rasa, dan Karsanya.

Ia mampu merasakan kesedihan tanpa kehilangan arah. Ia mampu menghadapi kegagalan tanpa merasa bahwa seluruh kehidupannya telah berakhir. Ia mampu menerima kritik tanpa langsung membalas dengan kemarahan.

Ketenteraman semacam ini menunjukkan kematangan dalam menghadapi kehidupan.

Cipta yang tidak mudah gelisah.
Cipta yang belum tenteram sering kali terus menciptakan kekhawatiran. Manusia membayangkan berbagai kemungkinan buruk, mengulang kejadian masa lalu, atau terus memikirkan sesuatu yang sebenarnya belum terjadi.

Dalam Tridaya Tentrem, Cipta mulai mampu menempatkan sesuatu secara proporsional. Manusia belajar membedakan antara kenyataan dan kekhawatiran yang diciptakan oleh pikirannya sendiri.

Ia tidak mengabaikan masalah, tetapi juga tidak memperbesar masalah melalui pikiran yang tidak terkendali. Ia berusaha melihat persoalan, memahami penyebabnya, kemudian menentukan tindakan yang dapat dilakukan.

Rasa yang lebih stabil.
Rasa pada tahap ini tidak mudah terseret oleh keadaan. Pujian tidak membuat manusia terbang terlalu tinggi, sementara celaan tidak membuatnya jatuh terlalu dalam.

Hal ini bukan berarti manusia menjadi tidak peduli. Justru karena Rasa semakin matang, ia mampu merasakan keadaan secara lebih utuh tanpa kehilangan keseimbangan.

Ketika melihat penderitaan orang lain, ia dapat merasakan keprihatinan tanpa tenggelam dalam keputusasaan.

Ketika memperoleh keberhasilan, ia dapat bersyukur tanpa berubah menjadi sombong.

Karsa yang tidak tergesa-gesa.
Karsa yang tenteram tidak mudah menghasilkan tindakan yang tergesa-gesa. Manusia mulai memahami bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan reaksi cepat.

Dalam keadaan marah, ia dapat menunda ucapan. Dalam keadaan kecewa, ia dapat menunda keputusan. Dalam keadaan sangat senang, ia tetap mempertimbangkan akibat tindakan.

Kemampuan menunda reaksi bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kekuatan. Manusia mulai memiliki ruang antara apa yang terjadi dan bagaimana ia meresponsnya.
Ketenteraman sebagai hasil pembentukan budi

Dalam kerangka Nawa Tridayaning Janma Uttamopadesa, ketenteraman bukan sesuatu yang semata-mata dicari melalui keadaan luar. Ia tumbuh sebagai hasil dari pembentukan budi.

Jika Cipta semakin jernih, Rasa semakin bersih, dan Karsa semakin lurus, maka kehidupan batin secara alami menjadi lebih tenteram. Sebaliknya, apabila pikiran penuh prasangka, perasaan penuh dendam, dan kehendak penuh pamrih, keadaan luar yang menyenangkan pun belum tentu menghasilkan ketenteraman.

Karena itu, Tridaya Tentrem menunjukkan hubungan erat antara kebersihan batin dan kualitas kehidupan sehari-hari.

Menerima keadaan tanpa menyerah.
Menerima keadaan tidak berarti menyerah terhadap keadaan. Penerimaan merupakan kemampuan melihat kenyataan sebagaimana adanya sehingga tindakan dapat dilakukan dengan lebih tepat.

Jika mengalami kegagalan, manusia menerima bahwa kegagalan tersebut telah terjadi, kemudian mencari apa yang dapat dipelajari. Jika menerima perlakuan yang tidak adil, ia tidak harus membalas dengan kebencian. Ia dapat mencari jalan penyelesaian yang tetap menjaga kebajikan.

Dengan cara demikian, ketenteraman tidak membuat manusia pasif. Sebaliknya, ketenteraman membuat Karsa lebih terarah.

Menuju pandangan yang lebih luas.
Tridaya Tentrem menjadi dasar menuju Tridaya Kawawas. Setelah manusia tidak lagi mudah diguncangkan oleh gejolak dalam dirinya, pandangannya mulai dapat diperluas.

Ia tidak hanya bertanya, “Apa yang menguntungkan saya?” tetapi mulai bertanya, “Apa akibat tindakan ini bagi sesama dan kehidupan?”

Perubahan sudut pandang tersebut merupakan langkah penting dalam perkembangan manusia karena ketenteraman yang matang tidak membuat seseorang semakin tertutup dalam dirinya sendiri.

FAQ Tridaya Tentrem.
Apa yang dimaksud Tridaya Tentrem?
Tridaya Tentrem adalah keadaan ketika Cipta, Rasa, dan Karsa mulai menemukan ketenangan dan keselarasan sehingga manusia tidak mudah terseret gejolak.

Apakah manusia tenteram berarti tidak pernah sedih?
Tidak. Kesedihan tetap dapat muncul, tetapi manusia tidak mudah kehilangan arah karena kesedihan tersebut.

Apa sumber ketenteraman menurut Tridaya Tentrem?
Ketenteraman terutama tumbuh dari kebersihan Cipta, kejernihan Rasa, dan Karsa yang semakin terarah, bukan semata-mata dari keadaan luar.

Apa hubungan Tridaya Tentrem dengan pembentukan budi?
Ketenteraman menjadi salah satu hasil ketika budi berkembang sehingga pikiran, perasaan, dan tindakan tidak mudah dikuasai pamrih.

Apa tahap berikutnya?
Tahap berikutnya adalah Tridaya Kawawas, ketika pandangan manusia mulai menjadi lebih luas dan mendalam.  

Komentar